Kamis, 20 Januari 2022 0 komentar

Budaya Positif Kegiatan Literasi

Langkah Perubahan melalui Penerapan Budaya Positif dalam Kegiatan Literasi sebagai Perwujudan Merdeka Belajar

Oleh : Popy Susilawati, S.Pd.
CGP Angkatan IV
Kabupaten Karangasem

Latar Belakang

Penerapan budaya positif dapat dilakukan dengan berbagai langkah yang pertama adalah perubahan paradigma. Sebagai salah satu guru penggerak yang mengajar di jenjang SMA, saya meyakini bahwa murid saya setelah tamat akan mulai berinteraksi dengan masyarakat luas guna mewujudkan impiannya baik sebagai tenaga kerja maupun sebagai mahasiswa. Guna mempersiapkan murid saya terjun ke masyarakat dan memperoleh pekerjaan yang layak, saya memimpikan murid yang memiliki kemampuan literasi serta memiliki profil pelajar pancasila. Dengan terwujudnya murid yang unggul berprofil pelajar pancasila diharapkan nantinya mampu menyesuaikan diri dengan   perkembangan   ilmu   dan   teknologi   serta   sukses   menjadi   pemimpin- pemimpin masa depan sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing dengan memiliki nilai Pelajar Pancasila yang berarti pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai Pancasila. Pelajar yang memiliki profil ini adalah pelajar yang terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya. Dimensi ini adalah: 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) Mandiri; 3) Bergotong-royong; 4) Berkebinekaan global; 5) Bernalar kritis; dan 6) Kreatif. Keenam dimensi ini perlu dilihat sebagai satu buah kesatuan yang tidak terpisahkan. Impian saya tentang murid masa depan ini saya coba tuangkan dalam sebuah visi sebagai berikut : “Menumbuhkan Kemandirian melalui Budaya Literasi Media dan Literasi Dasar untuk Menumbuhkan Kepemimpinan Murid dalam mewujudkan Merdeka Belajar.

Dalam mewujudkan visi tersebut diperlukan kolaborasi semua warga sekolah serta memanfaatkan seluruh kekuatan aset yang dimiliki. Dalam cakupan yang lebih kecil guna mendukung ketercapaian visi tersebut, kita bisa memulai dari diri sendiri dan lingkungan kelas dengan melakukan prakarsa perubahan khususnya dalam proses pembelajaran. Adapun Prakarsa perubahan yang ingin dicapai dalam waktu dekat (1 semester) melalui proses pembelajaran adalah : “Menumbuhkan Kemandirian melalui Budaya Literasi Media dan Literasi Dasar untuk Menumbuhkan Kepemimpinan Murid dalam mewujudkan Merdeka Belajar.

Tujuan Kegiatan adalah :

  1. Untuk mewujudkan visi murid masa depan sesuai visi, seorang guru penggerak harus mampu menjalankan perannya sebagai pemimpin pembelajaran dan mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid. Hal ini tentunya akan dapat terwujud bila proses pembelajaran di kelas menyenangkan, dan diminati oleh murid. Dengan suasana pembelajaran yang menyenangkan, tentunya akan memotivasi murid untuk meningkatkan kompetensinya dan mampu diajak untuk mengembangkan kemampuan kolaboratif, berpikir kritis dan kemandirian sebagai wujud profil pelajar pancasila. Terutama untuk kegiatan literasi.
  2. Pembelajaran yang literasi serta diminati oleh murid sangat diyakini akan dapat menjadikan murid untuk semangat belajar untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran dan kompetensi yang ingin dicapai. Selain itu untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan murid melalui kegiatan literasi. Hal ini dapat menjadi bekal bagi murid dalam mewujudkan murid yang kompeten (unggul) dimasa yang akan datang. Adapun Visi yang saya rancang adalah sebagai berikut: “Menumbuhkan Kemandirian melalui Budaya Literasi Media dan Literasi Dasar untuk Menumbuhkan Kepemimpinan Murid dalam mewujudkan Merdeka Belajar.

Untuk menumbuhkan kemandirian langkah pertama yang akan saya ambil adalah melakukan perubahan paradigma tentang teori kontrol. Di bawah ini adalah paparan Dr. William Glasser dalam Control Theory, untuk meluruskan berapa miskonsepsi tentang kontrol: Ilusi guru mengontrol murid. Pada dasarnya kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu jikalau murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun tampaknya kita sedang mengontrol perilaku murid tersebut, hal ini karena murid tersebut sedang mengizinkan dirinya dikontrol. Saat itu bentuk kontrol guru menjadi kebutuhan dasar yang dipilih murid tersebut. Teori Kontrol menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap perilaku yang tidak disukai. Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat. Penguatan positif atau bujukan adalah bentuk-bentuk kontrol. Segala usaha untuk mempengaruhi murid agar mengulangi suatu perilaku tertentu, adalah suatu usaha untuk mengontrol murid tersebut. Dalam jangka waktu tertentu, kemungkinan murid tersebut akan menyadarinya dan mencoba untuk menolak bujukan kita, atau bisa jadi murid tersebut menjadi tergantung pada pendapat sang guru untuk berusaha. Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat menguatkan karakter. Menggunakan kritik dan rasa bersalah untuk mengontrol murid menuju pada identitas gagal. Mereka belajar untuk merasa buruk tentang diri mereka. Mereka mengembangkan dialog diri yang negatif. Kadang kala sulit bagi guru untuk mengidentifikasi bahwa mereka melakukan perilaku ini, karena seringkali guru cukup menggunakan suara halus untuk menyampaikan pesan negatif. Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa. Banyak orang dewasa yang percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk membuat murid-murid berbuat hal-hal tertentu. Apapun yang dilakukan dapat diterima, selama ada sebuah kemajuan berdasarkan sebuah pengukuran kinerja. Pada saat itu pula, orang dewasa akan menyadari bahwa perilaku memaksa tidak akan efektif untuk jangka waktu panjang, dan sebuah hubungan permusuhan akan terbentuk.

Linimasa Tindakan yang dilakukan :

Dalam kegiatan literasi kita tidak dapat memaksakan murid untuk melakukannya oleh karena itu kita harus memiliki strategi untuk menerapkan program yang kita laksanakan. Saya akan mencoba mengubah paradigma saya tentang literasi dari stimulus respon menjadi teori kontrol. Hal pertama yang dilakukan adalah menyampaikan visi saya sebagai guru penggerak. Adapun visi yang saya rancang adalah : “Menumbuhkan Kemandirian melalui Budaya Literasi Media dan Literasi Dasar untuk Menumbuhkan Kepemimpinan Murid dalam mewujudkan Merdeka Belajar.” Setelah itu saya mengubah paradigma saya tentang kegiatan literasi. Kegiatan literasi harus dimulai dari dasar untuk dijadikan sebagai pembiasaan melalui langkah-langkah kecil perubahan.

Adapun hal-hal yang perlu saya perhatikan adalah sebagai berikut:

  1. Kebutuhan setiap murid berbeda
  2. Setiap orang memiliki gambaran yang berbeda tentang konsep literasi, kemadirian, kepemimpinan, dan merdeka belajar
  3. Saya akan berusaha memahami pandangan orang lain tentang literasi, kemandirian, kepemimpinan dan merdeka belajar
  4. Semua perilaku memiliki tujuan
  5. Hanya kita yang dapat mengontol diri sendiri.
  6. Kita tidak dapat mengontrol orang lain
  7. Kolaborasi menciptakan pilihan baru
  8. Model berpikir menang-menang

Perubahan paradigma yang saya rancang diharapkan dapat menjadi acuan untuk menumbuhkan nilai kemandirian, kepemimpinan murid dalam merdeka belajar.



Ki Hajar menyatakan bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan murid yang  merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud adalah disiplin diri, yang memiliki motivasi internal. Jika kita tidak memiliki motivasi internal, maka kita memerlukan pihak lain untuk mendisiplinkan kita atau motivasi eksternal, karena berasal dari luar, bukan dari dalam diri kita sendiri. Adapun definisi kata ‘merdeka’ menurut Ki Hajar adalah:
mardika iku jarwanya, nora mung lepasing pangreh, nging uga kuwat kuwasa amandiri priyangga (merdeka itu artinya; tidak hanya terlepas dari perintah; akan tetapi juga cakap buat memerintah diri sendiri)


Pemikiran Ki Hajar ini sejalan dengan pandangan Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001. Diane menyatakan bahwa arti dari kata disiplin berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang artinya ‘belajar’. Kata ‘discipline’ juga berasal dari akar kata yang sama dengan ‘disciple’ atau murid/pengikut. Untuk menjadi seorang murid, atau pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.

Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 alasan motivasi perilaku manusia:

  1. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
  2. Ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya? Sebenarnya mereka sedang menghindari permasalahan yang mungkin muncul dan berpengaruh pada mereka secara fisik, psikologis, maupun tidak terpenuhinya kebutuhan mereka, bila mereka tidak melakukan tindakan tersebut.
  3. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain
  4. Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini orang berperilaku untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, apa yang akan saya dapatkan apabila saya melakukannya? Mereka melakukan sebuah tindakan untuk mendapatkan pujian dari orang lain yang menurut mereka penting dan mereka letakkan dalam dunia berkualitas mereka. Mereka juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan hadiah, pengakuan, atau imbalan.
  5. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya
  6. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, akan menjadi orang yang seperti apa bila saya melakukannya?. Mereka melakukan sesuatu karena nilai-nilai yang mereka yakini dan hargai, dan mereka melakukannya karena mereka ingin menjadi orang yang melakukan nilai-nilai yang mereka yakini tersebut. Ini adalah motivasi yang akan membuat seseorang memiliki disiplin positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan eksternal.

Dalam penerapan kegiatan literasi di sekolah saya akan mencoba menumbuhkan motivasi menjadikan murid menjadi apa yang mereka inginkan, menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya dengan membuat keyakinan kelas.

Kebutuhan dasar manusia adalah Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari satu kebutuhan dasar kita, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan (power). Dalam merancang program literasi untuk mewujudkan nilai kemandirian dan kepemimpinan murid saya akan mencoba merancang strategi efektif dengan memperhatikan kebutuhan dasar murid.

Posisi Kontrol Guru adalah menurut Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Orang Merasa Bersalah, Teman, Monitor (Pemantau) dan Manajer. Dalam program aksi nyata yang yang saya rancang akan berusaha berada dalam posisi kontrol sebagai manajer. Untuk menciptkan kenyamanan bagi murid juga dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar manusia.

Keyakinan Kelas adalah Nilai-nilai keselamatan atau kesehatan inilah yang kita sebut sebagai suatu ‘keyakinan’, yaitu nilai-nilai kebajikan atau prinsip-prinsip universal yang disepakati bersama secara universal, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama. Menurut Gossen (1998), suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam, atau memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan. Murid-murid pun demikian, mereka perlu mendengarkan dan mendalami tentang suatu keyakinan, daripada hanya mendengarkan peraturan-peraturan yang mengatur mereka harus berlaku begini atau begitu. 



Segitiga Restitusi adalah Melalui restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya. Restitusi menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah. Ini sesuai dengan prinsip dari teori kontrol William Glasser tentang solusi menang-menang.

Menstabilkan Identitas/Stabilize the identity Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. Anak yang sedang mencari perhatian adalah anak yang sedang mengalami kegagalan. Dia mencoba untuk memenuhi kebutuhan dasarnya namun ada benturan. Kalau kita mengkritik dia, maka kita akan tetap membuatnya dalam posisi gagal. Kalau kita ingin ia menjadi proaktif, maka kita harus meyakinkan si anak.

Validasi Tindakan yang Salah/ Validate the Misbehavior Setiap tindakan kita dilakukan dengan suatu tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalau kita memahami kebutuhan dasar apa yang mendasari sebuah tindakan, kita akan bisa menemukan cara-cara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut Teori Kontrol semua tindakan manusia, baik atau buruk, pasti memiliki maksud/tujuan tertentu. Seorang guru yang memahami teori kontrol pasti akan mengubah pandangannya dari teori stimulus response ke cara berpikir proaktif yang mengenali tujuan dari setiap tindakan. Kita mungkin tidak suka sikap seorang anak yang terus menerus merengek, tapi bila sikap itu mendapat perhatian kita, maka itu telah memenuhi kebutuhan anak tersebut. Kalimat-kalimat dibawah ini mungkin terdengar asing buat guru, namun bila dikatakan dengan nada tanpa menghakimi akan memvalidasi kebutuhan mereka.

Menanyakan Keyakinan/Seek the Belief. Teori kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah divalidasi (langkah 2), maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini menghubungkan keyakinan anak dengan keyakinan kelas atau keluarga.

Dokumentasi Kegiatan







                                   

Tolak Ukur : Terlaksananya kegiatan literasi di kelas















Dukungan yang dapat dimanfaatkan secara maksimal adalah SDM dan fasilitas yang tersedia di sekolah seperti buku di perpustakaan, akses internet, dukungan dan motivasi dari seluruh warga sekolah.

LINK BERBAGI BUDAYA POSITIF :

https://drive.google.com/file/d/1Ff6pBYud6ED5OrvjxGm-OxINyYsPo14Y/view?usp=sharing

LINK MATERI BUDAYA POSITIF MELALUI LITERASI:

https://drive.google.com/file/d/14Zcph3RH7NBIlCvX59LdFyfoOoXK-Fv8/view?usp=sharing
Selasa, 16 November 2021 0 komentar

1.2.a.7 Demonstrasi Kontekstual - Nilai dan Peran Guru Penggerak


 

0 komentar

1.2.a.9 Koneksi Antar Materi - Nilai dan Peran Guru Penggerak

 

Koneksi Antar Materi – Nilai dan Peran Guru Penggerak

 Nilai dan Peran Guru Penggerak sebagai Perwujudan Merdeka Belajar dan Penanaman Profil Pelajar Pancasila

Oleh :

Popy Susilawati

SMA Negeri 2 Amlapura

               





Sebagai Calon Guru Penggerak (CGP) sosok seperti apa yang harus kita miliki untuk mewujudkan merdeka belajar? Tentu saja semuanya dimulai dari diri. Seorang guru penggerak harus memilki nilai-nilai berikut: Pertama Mandiri yaitu guru penggerak tidak tergantung kepada orang lain ketika menyelesaikan tugas dan  melaksanakannya dengan penuh rasa tanggung jawab. Kemudian Reflektif yaitu melakukan refleksi terhadap praktik mengajar, menemukan kelebihan dan kekurangan, meminta umpan balik dari guru maupun dari siswa. Yang ketiga yaitu Kolaboratif seorang guru penggerak harus  mampu bekerja sama dengan siapa dan kapan saja. Inovatif adalah nilai berikutnya yaitu mempunyai ide-ide baru dan merealisasikannya dalam pembelajaran. Nilai yang kelima yaitu Berpihak pada murid dimana segala daya dan upaya yang dilakukan untuk kepentingan murid. Kelima nilai tersebut harus kita miliki. Selain itu perwujudan Profil Pelajar Pancasila juga harus ada dalam diri setiap guru penggerak.

Selain memilki nilai-nilai tersebut seorang guru penggerak juga harus memilki peran berikut yang pertama Menjadi pemimpin pembelajaran yaitu menjadi seorang pemimpin yang menitikberatkan pada komponen yang terkait dengan pembelajaran, seperti kurikulum, proses belajar mengajar, assesmen, pengembangan guru, serta komunitas sekolah, dll. Kedua Menggerakkan komunitas praktisi yaitu berpartisifasi aktif dalam membuat komunitas belajar untuk rekan guru baik di sekolah maupun wilayahnya. Ketiga Menjadi coach bagi guru lain yaitu harus mampu mendeteksi potensi yang bisa ditingkatkan dari rekan sejawatnya. Keempat Mendorong kolaborasi antar guru yaitu melakukan kolaborasi serta mampu memetakan para pemangku kepentingan di sekolah (serta luar sekolah), serta membangun dialog antar para pemangku kepentingan tersebut. Kelima Mewujudkan kepentingan murid yaitu mampu mampu memunculkan motivasi murid sehingga dapat mewujudkan kemandirian dalam belajar juga mampu mendidik karakter murid di sekolah untuk menerapkan profil pelajar pancasila.

Berdasarkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat (KHD. 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal. 1. paragraf 4). Kata menuntun ini memiliki arti yang luar biasa dimana kita harus bertindak sebagai Among yang menghargai kodrat alam dan kodrat zaman yang dimiliki peserta didik. Untuk mewujudkan maksud pendidikan yang disampaikan oleh KHD berarti menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik dimana prosesnya berpihak pada murid. Kalimat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya menjadi tujuan utama dalam menciptakan proses pembelajaran yang berpihak pada murid. Kita harus melakukan peran dan menerapkan nilai yang diharapkan dimiliki seorang guru penggerak secara berkesinambungan atau terus menerus sehingga memberikan contoh praktik baik bagi yang lainnya.

Zaman saat ini telah berubah kemajuan teknologi sudah sangat pesat murid kita mempelajarinya dengan mandiri bahkan mungkin ada yang lebih baik dari kita. Namun dalam pendidikan perwujudan Profil Pelajar Pancasila diharapkan dimiliki oleh murid agar menjadi murid yang berbudi dan berkarakter. Profil pelajar pancasila yang harus dimilki peserta didik adalah Beriman dan Bertakwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia, Kreatif, Gotong Royong, Berkebhinekaan Global, Bernalar Kritis, dan Mandiri. Diharapkan peserta didik memiliki nilai-nilai tersebut untuk membentuk kebudayaan yang berbudi. Kodrat alam dan kodrat zaman dapat dipelihara dengan menjaga kebudayaan yang kita miliki sebagai potensi perkembangan zaman yang beradab

Sebagai seorang guru penggerak harus memilki strategi untuk perwujudan peran yang ingin dimiliki di masa yang akan datang. Kelima peran yang ingin diwujudkan dapat diciptakan dengan melakukan pergerakan secara berkesinambungan. Dalam peran sebagai pemimpin pembelajaran selalu mempelajari hal-hal baru agar proses pembelajaran lebih menyenangkan dan berpihak pada murid. Menggerakkan komunitas praktisi dapat terwujud dengan sering berkolaborasi untuk menciptakan iklim merdeka belajar. Bekerja sama dengan pemangku kepentingan untuk melakukan perubahan dan tindakan positif. Menjadi coach bagi guru lain mencoba menemukan potensi dari rekan - rekan dan berkolaborasi dalam perwujudan merdeka belajar. Mendorong kolaborasi antar guru bekerja sama membuat media pembelajaran, saling merefleksi diri dalam kegiatan mengajar dan mewujudkan kepemimpinan murid strateginya adalah memunculkan motivasi murid dengan pembelajaran yang berpihak pada murid misalnya diberi kebebasan melakukan inovasi, murid juga bebas menentukan sumber belajar yang mereka sukai. Sehingga minat dan bakat mereka bisa berkembang dengan baik.

Dalam mewujudkan peran sebagai guru penggerak semua pihak memberikan peran. Rekan-rekan guru berperan melakukan kolaborasi dan refleksi terhadap proses pembelajaran. Kepala sekolah dan Komite berperan sebagai pendukung menentukan kebijakan dalam perwujudan merdeka belajar. Murid memiliki peran utama sebagai tujuan utama menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dengan mengajarkan mereka sesuai dengan kodrat alam dan zamannya. Dukungan keluarga juga menjadi motivasi terbesar dalam melaksanakan peran dan nilai sebagai guru penggerak. Fasilitator dan pengajar praktik serta rekan-rekan CGP juga memiliki peran yang luar biasa, mendapat ilmu dan berbagi pengalaman. Dan yang paling utama adalah Berkah dan Ridha dari Allah SWT. Semoga dapat mewujudkan seorang Guru Penggerak yang dapat memiliki peran dan nilai yang positif untuk menerapkan profil pelajar pancasila baik dalam diri murid maupun dalam diri seorang guru penggerak untuk mewujudkan merdeka belajar. Salam dan Bahagia.

https://drive.google.com/file/d/1veXW3NpjwyRxY6-VEr-MWc_rFDr8Um-p/view?usp=sharing

0 komentar

1.1.a.7 Demonstrasi Kontekstual - Pemikiran KHD dalam Karya

 

Pemikiran KHD Memberi Cita


 

Gelap, sunyi, kehidupan tanpa didik dan ajar

Semua berlaku pada ingin yang tak berujung

 

Kemudian Wadah itu hadir di bumi Indonesia menjadi lentera penerang laku

Semua berawal dari diri lalu mengubah dunia

 

Disinilah peradaban dimulai lewat pengajaran dan pendidikan.

Banggalah …….kodrat manusia dijunjung tinggi untuk mencapai kehidupan berbudi.

 

Kodrat alam, kodrat zaman yang dimiliki tunas bangsa dihargai dan dipupuk

Dipelihara dengan cinta dan rasa berharap suatu hari memberikan bahagia.

 

Biarkan semua tetap beredar mengelilingi sang surya dengan kecepatan yang berbeda.

Yang terpenting jangan berhenti bergerak! 

Tidak perlu mengubah apapun karena tugas kita menuntun.

 

Merdeka belajar,

Merdeka berpikir,

Merdeka berkarya.

 

Bapak Ki Hadjar Dewantara pemikiranmu sungguh luar biasa demi peradaban Indonesia. Izinkan kami melanjutkannya.

 

                                                                                    Popy Susilawati

SMA Negeri 2 Amlapura

0 komentar

1.1.a.9 Koneksi Antar Materi - Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

 

Koneksi Antar Materi – Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Merdeka Belajar Dimulai dari Diri

Oleh :

Popy Susilawati

SMA Negeri 2 Amlapura


Hal yang dipercaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum mempelajari pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) adalah bahwa semua siswa dapat menjadi pandai dan berprestasi dengan memperbaiki kebiasaan belajarnya. Sebagai pendidik kita mengharapkan banyak hal dari siswa yaitu ingin mereka berprestasi, aktif dan yang utama menuntaskan seluruh target pembelajaran yang telah ditentukan. Berdasarkan pengalaman, siswa tidak ada yang mengeluh secara langsung hanya meminta perpanjangan waktu. Setiap akhir semester seluruh pembelajaran terselesaikan dalam bentuk angka.  Sering sekali kita sebagai pendidik merasa sudah melaksanakan tugas sebagai guru, namun pertanyaan sering muncul tiba-tiba. Sudahkah berperan sebagai pendidik dan pengajar? Hal yang utama sudahkah kita sebagai pendidik ada di hati siswa? Apakah mereka berinteraksi hanya untuk mendapat nilai? Mungkinkah ilmu yang berikan suatu hari nanti akan bermanfaat bagi hidupnya?

Seiring dengan timbulnya pertanyaan-pertanyaan tersebut yang terjadi merasa kesulitan untuk mencari jawabanya karena tidak adanya ukuran pasti. Kemudian mempelajari Pemikiran KHD dalam pendidikan membuat tersadar bahwa Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat (KHD. 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal. 1. paragraf 4). Kata menuntun ini memiliki arti yang luar biasa dimana kita harus bertindak sebagai Among yang menghargai kodra alam dan kodrat zaman yang dimilki peserta didik.

“Pendidikan itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya hidup dan tumbuhnya kekuataan kodrat anak” (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraf 5). Ini menunjukkan peran kita sebagai pendidik, dimana setiap anak sudah memiliki kodratnya sendiri tugas kita hanya menuntun untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Ketika kita menyampaikan sesuatu di kelas banyak potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Tugas kita hanya sebagai penjelas yang dimiliki peserta didik.

Pengajaran di dalam kelas harus memberikan pengaruh yaitu dapat memerdekakan manusia atas hidupnya lahir. Sedangkan pendidikan merupakan merdekanya hidup batin. Dengan kata lain KHD menjelaskan merdekannya lahir adalah pengajaran dan merdekanya batin adalah pendidikan. Kemerdekaan ini dapat dicapai dengan bermain dalam pendidikan sesuai dengan kodrat alam dan zaman.

Banyak hal yang berubah setelah mempelajari Pemikiran KHD tentang Pendidikan dimana mengubah cara mendidik anak di sekolah dengan memerdekakan lahir, batin dan tenaganya. Mengajar anak sesuai dengan kodrat zaman. Memperhatikan latar belakang peserta didik, keluarganya, potensi dirinya, minat dan bakatnya serta cita-cita yang ingin dicapainya. Memberikan pelayanan sebagai among menghamba dan berpihak  pada anak mendidik dengan seikhlas-ikhlasnya seperti orang tua mengurus anak kandungnya dengan memberi cinta kasih yang tak berbatas.

“Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa” Anak lahir dengan kodrat yang masih samar-samar. Tujuan pendidikan adalah meuntun (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya (KHD. 1936, Dasar-Dasar Pendidikan). Tugas kita sebagai pendidik hanya membantu menebalkan garis samar tersebut. Menebalkan laku anak dengan konteks diri anak, wiraga yaitu masa anak-anak yang tidak mengenal lelah, wiraga-wirama yaitu masa intelektual yang awalnya hanya mengenal raga kemudian mengenal irama, merasakan irama bisa memberi dorongan untuk melanjutkan dan menciptakan gerak-gerak berikutnya dan wirama yaitu masa social mulai menyadari semseta bergerak. Menggunakan irama sebagai sumber inspirasi menemukan kodrat lahirnya di dunia. Saat ditemukan mereka akan menjalani kehidupan bahagia sepenuhnya.

Mendidik anak selayaknya menanam benih padi yang dilakukan petani. Kita hanya dapat menuntun agar padi tersebut tumbuh dengan baik, kita memelihara tanahnya memberinya pupuk dan air, membasmi ulat dan hama lainnya yang akan mengganggu tumbuhnya padi. Setiap anak memiliki potensinya sendiri tugas kita hanya memberikan pemeliharaan terbaik agar menghasilkan generasi yang memiliki budi pekerti yang baik. Salah satunya dengan mewujudkan profil pelajar pancasila.

Profil pelajar pancasila yang harus dimilki peserta didik adalah Beriman dan Bertakwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia, Kreatif, Gotong Royong, Berkebhinekaan Global, Bernalar Kritis, dan Mandiri. Diharapkan peserta didik memiliki nilai-nilai tersebut untuk membentuk kebudayaan yang berbudi. Kodrat alam dan kodrat zaman dapat dipelihara dengan menjaga kebudayaan yang kita milki sebagai potensi perkembangan zaman yang beradab.

Peserta didik di among dengan tetap memperhatikan kodrat mereka. Pembelajaran di kelas dapat diterapkan dengan merdeka belajar. Salah satunya tidak menjadikan target penilaian sebagai acuan. Peserta didik dapat bebas menentukan sumber belajar yang mereka sukai. Mereka bebas bereksplorasi dengan lingkungan sekitar. Penerapan mencari sumber belajar dari berbagai bentuk menjadi salah satu hal yang dapat segera diterapkan. Peserta didik dapat mencari sumber informasi dari mana saja, anak yang suka teknologi dapat mencari melalui internet dan handphone, ataupun mema;ui media social, anak yang memiliki kemampuan membaca tinggi dapat mealalui buku yang bisa mereka dapatkan di perpustakaan ataupun koleksi buku pribadi. Peserta didik yang memiliki kemampuan visual dan imajinatif dapat mencari inspirasi dilingkungan sekitar. Biarkan semuanya beredar di garisnya masing-masing untuk menemukan bakat mereka.

https://drive.google.com/file/d/1OhE5AWQb3v49jKQOVmfRdN_0a3drl7J7/view?usp=sharing

 
;